Minggu, 27 April 2014

Kisah Coklat dan Pabrik Coklat

Ada dua bungkus coklat. Coklat pertama masih terbungkus dengan rapi, sementara coklat yang kedua sudah dikeluarkan dari bungkusnya. Kemudian kedua sama-sama diletakkan di lantai.
Nah, pertanyaannya adalah dari kedua coklat tersebut mana yang akan dipilih?? 

Sewajarnya coklat yang masih terbungkusnya lah yang dipilih. ya kaan.. Mengapa? ya tentu saja karena coklat yang masih terbungkus tersebut terhindar dari kotoran yang ada dilantai, binatang seperti semut dan laler pun tak tertarik untuk mengerumuninya. Jadi coklat tersebut tetap aman dan terjaga. Coklat tersebut juga masih bisa dikonsumsi dengan baik. Namun beda halnya dengan nasib coklat yang sudah dikeluarkan dari bungkusnya. Coklat tersebut tentu sudah kotor, karena bercampur dengan kuman yang ada di lantai. Semut pun dan laler pun akan langsung tertarik untuk mengerumuninya. Karena tanpa bungkus, coklat tersebut tentu tidak aman dan tidak terjaga. 

Seorang pemilik pabrik coklat tentu sudah mengerti terlebih dahulu permasalahan ini. Ia akan menjaga coklat-coklatnya agar tetap aman dan terjaga. Sehingga konsumen pun dapat menikmati coklat tersebut tanpa ada keraguan akan kebersihan coklat-coklat tersebut. Oleh karenanya si pemilik pabrik coklat akan membuat prosedur dan peraturan agar sebelum dipasarkan coklat-coklat tersebut harus dibungkus terlebih dahulu. Tentu saja bungkusnya pun sudah terstandarisasi. Namanya juga pabrik, bukan buatan rumahan. :D Jika ada bungkus coklat yang belum sesuai standar maka tidak akan dijual, karena coklat yang tidak terbungkus dengan sempurna tersebut bisa saja berisiko terkena debu dan semacamnya. 

Cerita tersebut merupakan suatu analogi bagi seorang wanita muslimah. Loh? Apa hubungannya??

Kamis, 24 April 2014

Make Right Choice


Sejak dulu saya senang sekali mononton kartun, terlebih Doraemon. Ya meski terlihat kekanak-kanakan tapi saya lebih senang untuk mengambil makna dari setiap episode kartun ini.
Saya teringat disalah satu episode doraemon, nobita pernah mengatakan bahwa "lebih baik memikirkan apa yang yang akan dilakukan dari pada melakukan sesuatu yang belum difikirkan"
sederhana memang, namun keduanya memiliki kadar konsekuensi yang berbeda.
Berfikir sebelum bertindak membuat seseorang lebih bijak dalam mengambil keputusan. Ia tak akan mungkin melakukan apa yang tidak sesuai dengan pemikirannya. Segala hal telah diperhitungkan dan dipertimbangkan.
Sementara bertindak tanpa pemikiran akan cenderung membuat orang menjadi ababil. Ia menjadi bingung sendiri terhadap hal yang telah dilakukannya sementara ia tak tahu kenapa ia melakukan hal itu. Hal ini tentunya didorong oleh hawa nafsu.

Berkerudung Seperti Punuk Onta, Bolehkah dalam Islam??

Perhatian.. Perhatian...
Artikel ini kudu dishare nid sobat Muslimah.. 

Setiap wanita pastilah ingin terlihat cantik di depan org banyak, terutama kepada kaum pria, namun Akhir akhir ini ada fenomena pemakaian hijab/kerudung oleh wanita di Indonesia yaitu dengan membuat gelungan tinggi seperti punuk unta diatas kepala lalu menutupnya denganhijab/kerudung. Sehingga nampak gelungan rambut yang menonjol dan sebagian orang berpendapat membuat wanita yang berjilbab lebih anggun. Sanggul itu menyerupai gelungan yang sangat tinggi yang memperlihatkan bahwa si pemakai kerudung memiliki rambut yang panjang. Sebenarnya pemakaian jilbab sanggul seperti ini diperbolehkan atau tidak dalam syariat islam? Ada sebagaian yang menganggap haram dan ada yang menganggap tidak apa-apa. Kenapa haram karena model seperti itu memperlihatkan aurat wanita. Dengan jilbab yang tinggi mengindikasikan bahwa rambut wanita itu panjang. Dengan demikian aurat dari rambut wanita akan mudah diketahui.

Hadist Tentang Haramnya Wanita Menggunakan Cepol Atau

Nabi Shalallahu 'alaihi wassalam dalam sabdanya :

© 2012 Pohon Rindang | Template designed by BlogSpot Design - Ngetik Dot Com